Pertemuan 9 : Senin, 20 April 2020
Waktu :
Pukul 19.00 s/d 21.00
Tema :
Menulis Cepat dan Tepat di Media Daring
dan Luring
Narasumber : Catur Nurochman
Oktavian (Ketua Departemen LITBANG PB PGRI)
Profil
pemateri kali ini adalah seorang penulis 20 buku sekaligus redaktur pelaksana
Majalah Suara Guru sejak januari 2019. Beliau juga telah menghasilkan ratusan
artikel baik di media daring ataupun luring. Pendidikan S1-nya di UNS dan S2 di
UPI Bandung. Namun, sejak bulan Juli 2019, ia menjadi ketua Departemen
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat PB PGRI.
Dalam
menulis, musuh utama kita adalah rasa takut dan malas. Dua musuh utama tersebut
harus kita kalahkan agar dapat memulai menulis cepat dan tepat di media daring
atau luring.
Alasan
yang klasik adalah, takut tulisannya jelek, takut dicela, takut tulisannya
sudah basi dan takut-takut lainnya. Hal inilah yang menghambat kita dalam
memulai sebuah tulisan.
Seorang
penulis yang baik, biasanya adalah pengamat dan pencatat yang baik. Karena
terbiasa mencatat apa yang dilihat, di dengar, dan dirasakan kemudian
dituangkan menjadi sebuah tulisan. Maka, seorang penulis akan menulis meski
tidak membawa alat perekam, alat tulis maupun laptop.
Mencatat
di benaknya dapat dilakukan di mana saja ; di kantin, kantor, kafe, bahkan
ketika di atas kendaraan.
Setiap
penulis yang baik tentu tidak membutuhkan “mood.”
Tidak ada alasantidak menulis, karena tidak ada mood.
Mood
harus disingkirkan dari benak Anda jika menghambat kerja otak dalam menulis.
Coba Anda bayangkan, jika seorang yang bekerja menghasilkan tulisan seperti
wartawan, kolumnis dan redaktur majalah bekerja dengan mengandalkan mood, tentu
karirnya akan tamat seketika.
Isaac
Asimov, seorang penulis fiksi ilmiah yang memiliki reputasi bagus, mengakui
bahwa cara ia menulis adalah simpel dan apa adanya. Menulislah dengan simpel dan apa
adanya.
Menulis
hal yang aktual dan sesuai dengan gaya selingkung media yang akan dituju,
menjadi kunci sebuah tulisan diterbitkan. Seperti dikatakan oleh Asimov di
atas, seorang penulis yang baik maka ia dapat menulis dengan cepat.
Perlu
diingat, bahwa setiap orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, maka ia
dapat melakukan lebih cepat dibandingkan orang yang tidak bekerja secara baik.
Menulis
adalah sebuah kecakapan atau keterampilan. Bila Anda menguasai secara detail
pengerjaan tulis menulis, maka kecakapan akan berbanding lurus dengan kecepatan
pengerjaan.
Menulislah
dengan simpel dan apa adanya mengandung maksud, jadilah dirimu sendiri ketika
menulis. Bagaimana caranya menemukan gaya atau menjadi diri sendiri ketika
menulis?. Tentu dengan perbanyak menulis dan membaca untuk mempelajari gaya
tulisan orang lain atau copy the master.
|
NOTED :
“Jangan paksakan diri dengan menulis sesuatu yang berlebihan di
luar gaya Anda”
|
Mulailah menulis dari sesuatu yang Anda suka. Kalau
suka travelling, tuliskan kisah perjalanan Anda. Tentu Anda akan lebih mudah menuliskan
sesuatu yang disukai. Tuturkan segala yang ada secara sederhana dengan cara
Anda.
Salah satu yang membuat seseorang tidak mampu
menghasilkan tulisan yang baik adalah karena mencoba memasukkan kata atau
kalimat yang membuat pembaca tidak paham pesan apa yang dimaksud dalam tulisan
itu.
Menulis itu untuk dibaca. Oleh karena itu, pesan
dalam tulisan harus jelas dapat dipahami oleh pembaca. Jika menulis dengan
kalimat yang tidak simpel, maka tujuan pesan Anda dalam tulisan tidak
tersampaikan. Bahkan hanya membuat kening pembaca berkerut.
Menulislah
seperti berbicara. Ketika berbicara kepada teman, tentu tidak ada
keinginan Anda menggelembungkan kata atau kalimat dengan bahasa yang
berlebihan. Ketika berbicara kepada orang lain, tentu sedapat mungkin menggunakan
bahasa yang dapat mudah dipahami, bukan?.
Bagi seorang pemula : mengapa Anda masih ragu
menghasilkan draft tulisan yang pertama? Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek,
karena Anda masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draft tersebut.
Setiap media memiliki gaya selingkung masing-masing
sesuai kebijakan redaksinya. Misalnya, kita perlu mengetahui berapa jumlah kata
dalam artikel yang bisa dimuat di media itu, dan aturan penulisannya. Atau rubrik apa saja yang tersedia di media
tersebut. Tidak perlu khawatir tulisan kita ditolak dan dianggap jelek.
Perbaiki lagi kekurangannya dan terus kirim lagi. Banyak faktor mengapa tulisan
tidak diterima redaksi. Mungkin tulisan tidak aktual? Atau space dalam edisi
penerbitan sudah penuh.
Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena Anda
masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draft tersebut. Draft tulisan yang
jelek masih dapat diperbaiki daripada tidak ada draft sama sekali.
Menulis itu untuk dibaca. Oleh karena itu, pesan dalam tulisan harus jelas dapat dipahami oleh pembaca. Jika menulis dengan kalimat yang tidak simpel, maka tujuan pesan Anda dalam tulisan tidak tersampaikan. Bahkan hanya membuat kening pembaca berkerut.
BalasHapus