Pertemuan 7 :
Kamis, 16 April 2020
Waktu :
Pukul 19.00 s/d 21.00
Tema : Tips Jitu Mengajar Gaya Motivator
Narasumber : Aris Ahmad Jaya (Motivator & Trainer)
Aris Ahmad Jaya, adalah motivator character
building dan trainer serta coach pada sekolah-sekolah unggul di Indonesia.
Selama lebih dari 15 tahun, ia menjadi motivator pada sekolah, Labscholl
Jakarta, Sekolah Al-Azhar seluruh Indonesia, Global Islamic School Condet dan
sekolah unggul lainnya di Indonesia.
Beliau lahir di Pati, 23 Februari 1974.
Menyelesaikan gelar dokter hewan pada tahun 2000 di Institut Pertanian Bogor
(IPB) dan meraih gelar Magister Manajemen di UIKA tahun 2015. Selain menjadi
trainer motivasi pada sekolah-sekolah unggul di Indonesia, beliau juga telah
memberikan berbagai macam materi motivasi bagi para orang tua dan mengajar gaya
motivator bagi guru dan pendidik.
Pola mengajar gaya motivator, adalah bagaimana guru
menjadi pribadi yang menarik dan dirindukan oleh para anak didik sebelum mereka
merindukan materi pelajaran yang akan disampaikan.
Berdasarkan niat,
seseorang menjadi guru dibagi menjadi dua yakni :
a. Guru betulan
b.Guru kebetulan
Guru betulan adalah guru yang memang dari awalnya
ingin menjadi guru dan ingin mengajar. Guru yang memiliki energi untuk
menyampaikan ilmunya pada anak-anak didik. Namun ternyata, apa yang ditemukan
oleh sang motivator bahwa sebagian guru adalah guru kebetulan. Kebetulan lulus
dari universitas dan sambil menunggu pekerjaan, maka ia melamar menjadi guru
dan kebetulan ia pun diterima. Kebetulan pula ingin mengikuti keinginan orang
tua. Kebetulan ada teman yang mengajak untuk menjadi guru.
Lantas, apakah kebetulan itu salah?. Kebetulan itu
salah jika kebetulan itu menjadi hal yang terus-menerus dilakukan dan tidak mau
belajar.
Namun kadang-kadang, guru kebetulan akan menjadi
guru betulan ketika ia mau belajar, mau
mengerti bahwa ini adalah sebuah proses yang harus ia lewati dan kadang-kadang
guru kebetulan pun akan menjadi guru betulan yang mencintai, yang dicintai dan
menyelami dengan sungguh-sungguh bahwa ini adalah proses yang baik untuk ia
jalani. Menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah saya dan Anda adalah guru
betulan atau guru kebetulan?. Tidak ada masalah. Menjadi masalah adalah ketika
saya dan Anda tidak mau menerima profesi kita sebagai seorang guru.
Apalah arti guru betulan namun tidak mau belajar
dan mengajar asal-asalan serta menyesali pilihan hidupnya yang menjadi
guru. Olehnya itu, mari kita mencintai
dan dicintai anak-anak didik. Karena kita adalah kurikulum yang sesungguhnya.
Menjadi guru yang menyenangkan dan diizinkan serta menjadikan kita sebagai guru
yang dapat membuat anak-anak didik mencintai ilmu.
Berdasarkan kriteria,
ada tiga macam tipe guru yaitu :
1. Nyasar
2. Bayar dan
3. Sadar
Guru nyasar adalah guru yang tidak punya tujuan,
tidak punya arah dan bisa menyesatkan. Anak-anak didik pun bisa membenci tipe
guru nyasar ini. Selain karena tidak punya target dan tidak punya energi, ia
dalah guru yang kehadirannya membuat jam dinding bergerak dengan sangaaat
lambat. Karena anak-anak didik merasa jenuh. Guru nyasar harusnya menyadari
daripada membuang energi menjadi guru, maka lebih baik ia mengundurkan diri.
Guru bayar adalah guru yang energinya terkait
dengan finansial. Dia bekerja karena ada gaji, sebatas pada urusan finansial
yang diperoleh. Kadang-kadang mengajar karena energi uang. Guru seperti ini
menjadi semangat di tanggal muda namun menjadi tidak semangat ketika berada di
tanggal tua. Hal ini membuatnya menyadari bahwa menjadi guru adalah pekerjaan
yang tidak menjanjikan untuk masa depan. Guru dengan tipe ini harusnya segera
menyadari bahwa murid-muridnya hanya
akan menerima materi dari seorang guru yang semangatnya on-off. Kadang semangat
dan kadang lesu.
Guru sadar, adalah guru yang kehadirannya dicintai
oleh anak-anak didiknya, mencintai pelajarannya dan mencintai kehidupannya.
Pembelajaran pun berlangsung dengan menyenangkan. Keilmuan menjadi
mengasyikkan. Kehadirannya adalah kehadirab yang menyenangkan. Kepergiannya
adalah kerinduan. Guru sadar adalah konektor keilmuan yang layak dicintai.
Menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah magnet bagi kecintaan anak-anak didik
terhadap ilmunya. Kecintaan terhadap Rabb-nya. Menjadikan ia menyadari bahwa
suatu saat ketika meninggal, anak-anak didiknya akan menjadi amal jariyah
baginya. Masya Allah.
Selanjutnya, mari sama-sama kita belajar ada lima
langkah yang bisa dipraktekkan dalam mengajar gaya motivator. Namun sebelumnya, ada baiknya kita mengetahui
terlebih dahulu bahwa ada empat peran guru. Peran – peran tersebut adalah :
1. Mengajar
2. Mendidik
3.Menginpirasi
4.Menggerakkan
Terkadang kita lebih fokus pada peran mengajar.
Menyampaikan ilmu yang ada di otak kita ke otak anak-anak didik. Memindahkan kurikulum
yang ada ke pikiran murid kita. Jadi, jika guru hanya sekedar mengajar, maka
Anda akan kalah ole pola-pola dan metode hari ini yang lebih modern (belajar
online seperti youtube atau kelas
online)
Sebaiknya guru harus masuk pada zona mendidik. Guru
menjadi idola, teladan dan patutu dicontoh. Diharapkan ketika masuk ke ranah
mendidik, kita dapat memasukkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik, seperti
kejujuran, keadilan, disiplin, tanggung jawab, bekerja sama, saling tolong
menolong dan lain-lain yang bisa dijalankan oleh anak-anak didik dalam
kesehariannya. Hal itu adalah pola-pola yang bisa kita lakukan dan masukkan
dalam setiap pembelajaran apapun.
Guru yang mampu mendidik adalah guru yang mampu
menginspirasi. Anak-anak didik akan menjadikan kita sebagai sosok yang
menginspirasi dengan histori dan pengalaman. Kita adalah motivator bagi mereka.
Guru yang hebat bukan hanya sekedar guru yang mengajar, tapi mampu mendidik,
menginspirasi dan menggerakkan.
Berikut adalah lima tips yang bisa kita lakukan
bersama-sama untuk menjadi guru yang mengajar gaya motivator :
1.
Jadilah guru yang menarik dan menyenangkan
Dengan ini, kita memiliki daya tarik yang membuat anak-anak didik
merindukan pribadi dan materi yang kita sampaikan. Mulai dari apa yang terlihat
dan dapat dirasakan dengan cara, mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang
menarik dengan tampilam dan perilaku yang menarik. Jangan lupa untuk selalu
memahami kondisi anak didik, sehingga kita memang diizinkan untuk masuk ke
pintu pikiran mereka.
2. Temukan titik lebihnya dan temukan nilai unggulnya. Motivasilah anak
didik untuk menemukan nilai unggulnya. Albert Einstein, seorang ilmuan populer
pernah berkata kalau kita memaksa seekor burung untuk berenang, ikan untuk
terbang dan monyet untuk melata maka kita akan melihat kebodohan-kebodohan dari
hewan-hewan tersebut. Berikan kesempatan para anak-anak didik untuk unggul.
Berikan mereka momentum pada nilai lebihnya.
3. Berikan anak-anak didik kepercayaan bahwa mereka adalah sosok-sosok yang
bernilai dan bermakna. Berikan rasa percaya diri bahwa mereka mampu dan bisa
untuk melakukan hal-hal yang ia punya nilai lebihnya.
4. Libatkan anak-anak didik menjadi bagian dari pemain, bukan sekedar
menjadi penonton. Jadikan mereka memiliki histori. Memiliki sejarahnya sendiri.
5. Jangan lupa untuk selalu memberikan label positif pada anak. “Wah, kamu
luar biasa”, misalnya dan label-label positif lainnya yang dapat membuat mereka
merasa dihargai dan dicintai oleh kita, gurunya.
Semoga kita bisa menjadi guru motivator bagi
anak-anak didik tercinta. Menjadikan mereka bermakna, berharga dan bernilai
bagi sejarah masa depan mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar